Thomas Trikasih Lembong : Pembelajaran Saat Ramadhan Untuk Indonesia Kedepan

Majalahteras.com- Nama Thomas Trikasih Lembong sempat menjadi buah bibir setelah ia didapuk menjadi Menteri Perdagangan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada 2015 lalu.

Sedikit lebih dekat mengenal orang nomor satu di Kementerian Perdagangan RI ini, Tom begitu ia biasa disapa, adalah penyandang gelar Bachelor of Arts di bidang arsitektur dari Harvard University sejak 1994. Ia mengawali karirnya sebagai birokrat pertama kali pada akhir 1998 di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai Kepala Divisi Asset Management Investment (AMI). Ia menjabat selama 2 tahun.

BPPN adalah sebuah lembaga yang dibentuk pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden nomor 27 tahun 1998. Lembaga ini dibentuk untuk menyehatkan perbankan, penyelesaian aset bermasalah (salah satunya aset obligator Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), dan mengupayakan pengembalian uang negara yang tersalur pada sektor perbankan.

Namun umur BPPN tidak panjang, pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri, lembaga ini dibubarkan dengan Keppres yang dikeluarkan pada 27 Februari 2014.

Setelah BPPN bubar, Tom berkarir di Deutsche Bank, Morgan Stanley, dan Farindo Investments. Lalu ia menjadi salah satu mitra pendiri Private Equity. Dia juga merupakan bagian dari Principia Management Group dan PT Graha Layar Prima Tbk.

Salah satu prestasi Tom adalah penobatannya sebagai Young Global Leader (YGL) di World Economic Forum (Davos) pada 2008. Di dalam negeri, Tom lebih dikenal sebagai pengusaha bioskop Blitz Megaplex yang merupakan saingan 21 Cineplex. Tom juga dikenal sebagai  pengusaha muda, dan seorang bankir yang sukses. Disamping itu, untuk urusan pendidikan, Tom  memperoleh gelar Bachelor of Arts (BA) di Harvard University, AS.

Namun dengan bekal dan semua kecakapan yang dimilikinya, Tom juga menyadari dalam menjalankan tugas sebagai menteri perdagangan tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh sebab itu, dia berharap semua elemen di Kemendag mau bekerja keras.

“Kita semua sadar kita hadapi tantangan ekonomi  yang fundamental, kita harus kerja keras membantu negara dalam mengatasi tantangan ini. Tetapi pada saat yang sama Pak Presiden dan Pak Wakil Presiden sangat yakin kita bisa mengatasinya. Jadi bagaimana kita berdayakan kekuatan-kekuatan itu,” ungkap Thomas Trikasih Lembong seperti dikutip dari laman liputan6.com.

Jaga Kesetabilan Harga Pangan

Menteri Perdagangan Thomas Lembong merasa bulan suci Ramadan tahun terasa lebih spesial. Pasalnya tahun ini merupakan kali pertama dirinya menjalankan ibadah puasa sebagai seorang menteri.

Namun bukan hanya itu, Lembong mengaku Ramadan kali ini terasa lebih spesial karena mendapatkan kejutan dari Presiden Joko Widodo. Kejutan yang dimaksudnya bukanlah sebuah bingkisan melainkan sebuah instruksi langsung untuk menjaga bahkan menurunkan harga bahan pangan di saat Ramadan.

“Ini Ramadan dan Idul Fitri pertama buat saya sebagai Menteri, tentu sebuah pengalaman yang menarik. Ditambah kejutan dari Presiden untuk jungkir balikan semua soal harga pangan,” tuturnya di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, beberapa waktu yang lewat.

Kendati begitu, Lembong mengaku tidak menyesal. Meskipun berat menurutnya hal itu membawa pengalaman serta perspektif baru untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu baru untuk menjaga kestabilan harga pangan di saat Ramadan.

“Kenapa enggak sekali-kali mencoba hal yang baru. Jadi ini bulan Ramadan yang paling menarik, penuh pembelajaran buat saya. Karena bisa banyak mengimplementasikan ilmu baru khusus pasok dan harga pangan, solusinya apa dan kedepan untuk memperbaiki lagi di kemudian hari,” imbuhnya.

Sementara itu, untuk  mengontrol harga kebutuhan pokok menjelang lebaran khusunya komoditas daging sapi. Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong, tak segan-segan, belum lama ini  turun langsung Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur untuk melihat harga bahan pokok jelang Hari Raya Idul Fitri.

Saat sidak, salah satu yang menjadi perhatian Thomas adalah harga daging. Ia mengatakan harga daging sebenarnya bisa kembali normal bahkan sampai di bawah Rp 70 ribu seperti yang dijual di operasi pasar. Harga daging bisa turun kalau kita lakukan operasi pasar terus menerus.

Ia menambahkan banyak cara untuk menurunkan harga daging. Selain operasi pasar, pasokan daging juga harus ditambah. Selain itu, kata Thomas, masyarakat dihimbau tidak mengkonsumsi daging segar, tapi memakan daging beku. “Selain lebih murah, daging beku juga lebih higienis,” katanya.

Thomas memberi contoh, di berbagai negara maju konsumsi daging seluruhnya adalah daging beku karena lebih higienis dan logistiknya lebih mudah diatur.”Kalau negara-negara maju seperti Jerman dan AS, di toko daging tidak mungkin ada daging segar yang digantung di suhu ruangan. Daging disimpan di lemari pendingin,” ujarnya.

“Pemerintah akan menekan impor daging. Jika masih dibutuhkan karena kebutuhan daging kurang, akan dilakukan inovasi. Kita impor bukan hanya dari Australia saja, tapi dari India, Korea Selatan,” paparnya.@AANG