Rabies Renggut 1.500 Nyawa Orang di Tanzania

Majalahteras.com – Penyakit rabies telah merenggut 1.500 orang setiap tahunnya di Tanzania, demikian diungkap Masyarakat Afrika Timur (EAC) pada Rabu (27/9/2017). Penyakit tersebut disebabkan virus yang mempengaruhi sistem syaraf pusat dan ditularkan oleh gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi.

Dalam satu pernyataan sebelum Hari Rabies Dunia, EAC menyebut korban-korban rabies di Tanzania terdiri dari anak-anak yang terkena gigitan anjing.

“Kebanyakan korban rabies adalah anak-anak dan penularan terjadi melalui gigitan anjing,” jelas EAC sebagaimana dikutip wartawan.

Namun, data yang diperoleh EAC tersebut bisa saja bertambah karena banyaknya kasus yang tidak terlapor ke dinas kesehatan setempat. Itu sebabnya kasus ini tidak muncul dalam statistik resmi, kata ahli ilmu pengetahuan.

Kepala Departemen Kesehatan EAC, Stanley Sonoiya menyebut Hari Rabies Dunia sebagai contoh mencolok mengenai pentingnya kerja sama erat antara profesi medis hewan dan manusia serta mengenai perlunya pendekatan kesehatan. Hal tersebut dilakukan guna mencegah dan mengendalikan penyakit hewan.

Tak hanya itu, Kepala Departemen Keamanan Pangan dan Pertanian EAC, Fahari Marwa mengatakan saat ini Sekretariat EAC sedang berjuang untuk menerapkan salah satu pendekatan kesehatan di wilayah EAC.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga angkat bicara mengenai kasus rabies. WHO menekankan pentingnya vaksinasi anjing sebagai hal paling efektif mencegah rabies. Hal itu dapat mengurangi rabies pada anjing dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat sehingga mengurangi penularan ke manusia.

Hari ini, 28 September diperingati sebagai Hari Rabies Dunia. Peringatan ini sebagai wujud mengenang meninggalnya Louis Pasteur, ahli mikrobiologi dan kimia Prancis yang pertama kali mengembangkan vaksin rabies.

Sekretariat EAC bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Dunia bagi Kesehatan Hewan (OIE) dijadwalkan akan memberikan vaksin ke 5.000 anjing di 28 tempat vaksinasi di Kota Arusha, Kamis (28/9/2017).

Sementara itu, Indonesia dalam dua bulan terakhir telah menetapkan status tanggap darurat rabies di Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat, Abdul Manaf mengatakan keputusan itu dibuat karena jumlah korban rabies semakin meningkat dan meluas penyebarannya.

“Hal ini dilakukan karena jumlah korban akan gigitan anjing yang membawa virus rabies itu semakin meningkat dan penyebarannya semakin meluas,” kata Abdul di Pontianak, Senin (31/7/2017) lalu.

Pemerintah pusat telah memberikan bantuan untuk menanggulangi penyakit tersebut, seperti vaksin dan bantuan dana untuk operasional tenaga vaksinator.

“Selain itu juga bantuan penanganan datang dari pemerintah pusat. Selain vaksin, pemerintah pusat juga siap menggelontorkan dana untuk operasional dalam penanganannya, termasuk juga anggaran yang diperuntukkan serta operasional tenaga vaksinator,” katanya menjelaskan. (jem/net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *