Mengenal Lebih Dekat Kesenian Dzikir Saman

Sejarah

Dzikir Saman disebut juga Dzikir Maulud yaitu kesenian tradisional rakyat Banten khususnya di Kabupaten Pandeglang yang menggunakan media gerak dan lagu (vokal) dan syair-syair yang dilantunkan mengagungkan Asma Allah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan literatur disebut Dzikir Saman karena berkaitanarti Saman yaitu Delapan dan dicetuskan pertama kali oleh Syech Saman dari Aceh.

Tari Saman berasal dari Kesultanan Banten yang dibawa para ulama pada abad 18 sebagai upacara keagamaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Maulud, namun pada perkembangan selanjutnya dapat pula dilakukan pada upacara selametan khitanan, pernikahan atau selametan rumah.

Pemain Dzikir Saman berjumlah antara 26 sampai dengan 46 orang. 2 sampai 4 orang sebagai vokalis yang membacakan syair-syair Kitab “Berjanji”, sementara 20 sampai 40 orang yang semuanya laki-laki mengimbangi lengikan suara vokalis dengan saling bersahutan bersama (koor) sebagai alok.

Pola permainan seni Dzikir Saman dilakukan sehari penuh dengan tiga Babakan, yaitu: Babakan Dzikir, Babakan Asroqol, dan Babakan Saman.

 

Pola Permainan

Kesenian Dzikir Saman dipertunjukkan dalam tiga episode. Episode pertama, rnelaksanakan dzikir dari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 1200. Pada episode ini para pemain berdzikir, berdoa, membacakan puji-pujian, dan salawat kepada Rasul.

Mereka duduk berhadapan sambil memegang hihid dan tampaklah suasana khidmat dan sakral.

Episode kedua dimulai dari pukul 12.00 sampai dengan pukul 15.00. Episode ini dinamakan asroqol yaitu babak yang menonjolkan lengkingan vokal (beluk). Para pemain membentuk formasi berhadapan dengan teknik berdiri dan jongkok silih berganti. Para pemain satu dengan yang lain memukulkan hihid lalu terdengar sayup-sayup dilantunkan syair berisi sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw.

Episode yang ketiga dinamakan saman. Episode ini dilakukan dari mulai pukul 5.00 sampai selesai. Para pemain tidak menggunakan hihid lagi, mereka menari dengan menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti alunan suara vokal dan koor.

Masyarakat yang ada di lapangan terus mengiringi arak-arakan dan menari secara spontan mengikuti suara vokal, kemudian membentuk lingkaran dan mengelilingi sebuah dongdang berisi makanan, dongdang tersebut isinya diperebutkan. Selanjutnya, masyarakat melakukan saweran yaitu melemparkan sejumlah uang kepada para pemain. Acara ditutup dengan pembacaan doa.

 

Pakaian

Para pemain tidak menggunakan pakaian seragam dengan corak yang sama tetapi disesuaikan dengan tradisi setempat. Mereka menggunakan celana pangsi hitam, baju kampret, dodot dengan motif kain batik, ikat kepala batik, dan ikat pinggang dari batik pula.

 

Para Tokoh Penyebaran

Kesenian Dzikir Saman dibawa oleh para ulama dan Sultan Banten pada abad ke 18. Pada periode selanjutnya yakni di wilayah Jawa Pandeglang dikenal seorang tokoh yang diyakini sebagai penyebar kesenian ini yang bernama Ki Sarimi. Ia menyebarkannya di daerah Wonogiri berdekatan dengan Desa Ciandur. Keterampilan ini kemudian diwariskan kepada Ki Dasik, diwariskan lagi kepada Ki Nirman, Ki Jasman, Ki Sarka Apandi, dan Ki Surahman.

Kesenian Dzikir Saman penyebarannya merata di wilayah Provinsi Banten, kecuali Tangerang. Sampai kini di Banten memiliki 22 perkumpulan dengan jumlah para senimannya 330 orang. Perkumpulan Kesenian Dzikir Saman ini di antaranya dzikir Saman Baros yang dipimpin oleh D. Soemantri, Dzikir Saman Sari Panggugah terdapat di Kecamatan Bojong Pandeglang yang dipimpin oleh Salim, Dzikir Saman Layung Sari Iterdapat di Kecamatan Lebak Pandeglang yang dipimpin oleh Sarka Apandi, dan Dzikir Saman Gagak Lumayung terdapat di Kecamatan Pagelaran Pandeglang yang dipimpin oleh Wayan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *