Menemani Pasangan yang Sedang Depresi

Majalahteras.com – Pekan lalu, media massa diramaikan oleh berita penangkapan pasangan Tora Sudiro-Mieke Amalia atas tuduhan kepemilikan dan konsumsi psikotropika, Dumolid. Polisi menetapkan Tora sebagai tersangka pada Jumat (4/8) lalu, sementara Mieke dibebaskan. Saat diperiksa petugas, Tora mengatakan dirinya mengonsumsi Dumolid sejak setahun silam dan hanya menggunakan obat tersebut sebagai penenang. Tora mengaku mengalami kesulitan tidur. Sementara Mieke baru menggunakannya setengah tahun terakhir, setelah “direkomendasikan” oleh sang suami untuk gangguan tidur yang juga dialaminya.

Obat yang sempat membuat Ridho Rhoma diamankan petugas ini memang lazim diresepkan sebagai terapi jangka pendek untuk pasien-pasien yang mengalami gangguan insomnia, depresi, cemas, serta iritabilitas. Sayangnya, saat ditemukan obat-obat tersebut di kediaman Tora, laki-laki tersebut tidak membawa bukti resep dokter yang membuat akses terhadap Dumolidnya ilegal.
Kemalangan yang menimpa pasangan ini tak pelak membawa beban psikologi bagi Tora maupun Mieke. Meski tak turut dipenjara, Mieke sangat berpotensi mengalami shock, frustrasi, atau bahkan depresi pascapenangkapan yang dialaminya. Di lain sisi, ia sebagai istri pun mesti mendampingi Tora yang sejak sebelum penangkapan pun terindikasi mengalami masalah psikologis yang mendorongnya mengonsumsi Dumolid.

Depresi yang dialami pasangan ini bukan tidak mungkin menjadi ancaman bagi relasi seseorang. Dilansir Reader’s Digest , 42 persen responden yang terlibat dalam Reader’s Digest Marriage in America Survey menyatakan bahwa depresi merupakan tantangan utama dalam relasi mereka. Berbeda dengan masalah-masalah dalam relasi percintaan yang kerap dianggap orang sebagai konflik biasa yang akan reda seiring waktu, depresi membawa efek lebih jauh terhadap diri seseorang.

Pergeseran suasana hati, pikiran negatif yang lalu-lalang, gangguan tidur, masalah nafsu makan, dan tingkat energi yang fluktuatif adalah contoh-contoh gejala depresi yang patut diwaspadai. Semua gejala ini bisa muncul akibat macam-macam faktor. Beberapa di antaranya ialah stres berkepanjangan, entah di tempat kerja, dipicu masalah keluarga, masalah finansial, rasa kehilangan yang begitu besar, kelahiran seorang anak dan menjadi orangtua, bahkan masalah kesehatan fisik yang membuat orang mesti mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Strategi Menghadapi Pasangan Ketika Ia Depresi

Menghadapi pasangan yang sedang depresi sering kali membuat seseorang tidak sabar dan cenderung menyalahkan si pasangan atas kondisi tidak menyenangkan yang ditemukan dalam relasi mereka. Untuk mempertahankan relasi dan kesehatan mental pribadi, dan tentunya untuk menjaga keutuhan rumah tangga atau hubungan romantis dengan seseorang, dibutuhkan usaha ekstra dibanding menghadapi pasangan yang secara mental tidak terganggu. Beberapa strategi khusus dapat dijalankan untuk menunjukkan kepedulian dan rasa sayang kepada pasangan tanpa terlihat menghakimi atau tak sensitif terhadap kondisinya.

Dalam The Guardian , Poorna Bell menceritakan pengalamannya menjanda akibat Rob, sang suami memutuskan bunuh diri. Sejak awal relasi, Rob telah mengatakan kepadanya bahwa ia mengalami depresi. Meski demikian, Bell tidak gentar untuk melanjutkan hubungan hingga menikah. Mulanya, Bell tidak mengetahui sekronis apa depresi yang dialami suaminya, hingga pengalaman hidup bersama membuatnya perlahan memahami situasi pelik yang dihadapi Rob.

Meski tak bisa mencegah Rob bunuh diri, Bell akhirnya memetik pengalaman berharga dari kepergian suaminya. Pertama yang patut diingat adalah menjaga kesehatan diri sendiri. Wajar bila ketika melihat pasangan sedang depresi, seseorang merasa sendirian mengembang berbagai tanggung jawab rumah tangga, termasuk pula mengurus anak-anak jika pasangan telah memilikinya. Hal ini yang lantas mampu memicu kemarahan dan frustrasi. “Tekanan untuk terus menjalani hidup (saat mengalami kepelikan akibat pasangan depresi) bisa jadi membuat orang kewalahan,” ujar Dr. Monica Cain, psikolog dari RS Nightingale di London.

Kendati masalah berat ada di depan mata dan keinginan untuk membantu pasangan keluar dari depresi begitu besar, ini tak menjadi alasan untuk seseorang melupakan kesehatannya. Adalah sesuatu yang mustahil untuk memenuhi harapan kesembuhan pasangan jika diri sendiri saja tidak berada dalam kondisi mental yang cukup optimal.

Hal kedua yang perlu disadari seseorang yang menemani pasangan depresi adalah masalah ini tidak hanya memengaruhi jiwa pasangannya. Beragam aktivitas pun terkendala akibat munculnya depresi. Bell menyatakan, kerap kali Rob enggan meninggalkan kamar, bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena ia merasa tidak bisa. Pengalaman Bell ini sejalan dengan argumen Dr. Cain yang mengatakan bahwa orang yang depresi tidak jarang merasa sangat letih dan hanya ingin mengurung diri di kamar. Keengganan untuk beraktivitas, apalagi untuk melakukan olahraga, ini tak pelak menciptakan penurunan performa fisik seseorang yang sedang depresi.

Tidak mudah tentunya untuk membuat pasangan yang depresi untuk keluar dan melakukan hal-hal menyenangkan sebagaimana dulu dilakukannya. Alih-alih mengatakan “Kenapa kamu tidak jalan-jalan atau menonton film saja untuk melupakan depresimu?”, seseorang dapat menjajal menawarkan, “Maukah kamu ikut saya jalan-jalan ke sekeliling?”. Menunjukkan keterlibatan dalam upaya pasangan keluar dari depresinya menjadi hal krusial yang patut dicatat seseorang. Melihat pasangan sebagai sosok yang memperumit dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran tak masuk akal dan secara instruktif memintanya mencari pertolongan justru akan kian membuat pasangan terpuruk, merasa sendirian dan ditinggalkan, bahkan oleh orang yang dicintainya.

Angela Avery, konsultan yang mendalami bidang depresi dan isu-isu dalam perkawinan berpendapat dalam Huffingtonpost, sering kali seseorang ingin mengentaskan masalah pasangannya secepat mungkin. Inilah yang kemudian memicu seseorang untuk segera menyugesti berbagai hal yang menurutnya mampu membuat hari pasangannya lebih cerah. Padahal, ada perlakuan lain yang membuat pasangan yang depresi lebih nyaman dibanding harus “dipaksa” keluar dan mencari kesenangan. “Langkah untuk mendorong pasangan depresi beraktivitas di luar rumah bisa saja dengan menanyainya, ‘Maukah kamu menemaniku pergi?’ atau ‘Aku mau menonton film komedi ini, kamu mau ikut denganku?’. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa mengisyaratkan pesan bahwa pasangan diinginkan dan dibutuhkan sehingga pada akhirnya, Anda bisa menggerakkannya dari pusat depresi,” jabar Avery.

Bell kemudian juga menyarankan orang-orang yang tengah menghadapi pasangan depresi untuk bercerita kepada teman atau keluarga. Memang tidak semua orang paham dengan situasi depresi yang sedang dialami pasangan. Tetapi, untuk menjaga kewarasan seseorang, menumpahkan isi pikiran dan perasaan bisa jadi jalan yang patut dicoba. “Membuka percakapan dengan teman dan keluarga, serta melibatkan mereka dalam penyelesaian masalah biasanya menciptakan perbedaan besar dalam mematahkan stigma. Hal ini juga dapat dilakukan dalam rangka menghimpun dukungan,” ucap Dr. Antonis Kousoulis, pakar kesehatan dan asisten direktur di Mental Health Foundation.

Ketika pasangan sedang depresi, hal-hal yang tampak di sekitarnya sering kali dianggap negatif. Pada saat seperti ini, seseorang mesti berlatih untuk “kebal” terhadap serangan-serangan pikiran buruk yang dilancarkan si pasangan. Alih-alih, sikap negatifnya perlu ditanggapi dengan perhatian lebih dan pernyataan bahwa ia tidak akan meninggalkan si pasangan lantaran depresi yang sebenarnya tidak pernah diharapkan siapa pun untuk terjadi.

“Depresi klinis bukanlah suatu pilihan. Ini adalah gangguan suasana hati yang disebabkan banyak faktor biopsikososial. Saat pasangan murung, baik bila seseorang mencoba menangkal pikiran irasionalnya dengan hal-hal yang lebih konstruktif. Ketika seseorang terus menghujani pasangannya dengan kata-kata ‘kamu seharusnya begini, kamu tidak semestinya begitu’, pasangannya tersebut akan merasa lebih bersalah dan makin terpuruk dalam pikiran negatifnya,” jelas Avery.

Pemilik situs The Counseling Studio ini kemudian menyarankan seseorang yang menghadapi pasangan depresi untuk melontarkan kata-kata seperti “Depresimu membuat kamu berpikir bahwa kamu tidak berarti lagi. Aku ingin mengatakan bahwa kamu berarti buatku. Aku membutuhkanmu, menginginkanmu, dan aku mencintai kamu.” Setiap kali pasangan mengekspresikan pikiran negatifnya, upayakan untuk memberikan pikiran alternatif yang bisa menjadi sumber penguatan. Pemahaman mendalam akan kondisi pasangan inilah yang menurut Avery potensial menghindarkan seseorang dan pasangannya dari perdebatan tak berujung yang bisa berakhir pada perpisahan. (net/jems)