Lingkungan Melihat Hutan Mangrove Kota Tarakan

Majalahteras.com – Pohon bakau yang biasa disebut hutan mangrove merupakan salah satu cara untuk mencegah pantai tergerus oleh air laut. Tidak hanya itu, pohon bakau juga dapat mencegah gelombang tsunami menyerbu daratan seperti yang pernah terjadi di Aceh.

Namun Pemda terkadang memandang penanaman hutan bakau hanya menghambur-hamburkan biaya. Juga tidak memiliki nilai ekonomis, sehingga dapat memberatkan APBD. Bagi bupati atau walikota yang berpikiran ’sempit’ seperti itu, tentu dapat berkaca pada Kota Tarakan di Kaltim.  Kota  Tarakan tidak hanya dikenal sebagai kota minyak. Tapi kota ini juga memiliki hutan mangrove di tengah kota yang disebut Kawasan Wisata Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Kawasan konservasi ini berlokasi di Jalan Gajah Mada.
Luas Tarakan mencapai 250,8 kilometer persegi, dengan penduduk mencapai 169.000 jiwa.

KKMB yang terletak di pinggir pantai, tidak bisa dimasuki manusia secara langsung. Karena pantainya berlumpur dan berair. Untuk itu, pengelola KKMB membuat jembatan kayu sepanjang 2.400 meter yang meliuk-liuk di tengah rimbunan hutan mangrove. Pengunjung yang datang ke KKMB dapat berjalan di atas jembatan kayu selebar 1 meter untuk mengitari  areal seluas 21 hektare. Untuk masuk pengunjung dikenai tariff murah meriah, cuma Rp 1.500 untuk dewasa dan Rp 1.000 untuk anak-anak.

Pengunjung  tidak perlu khawatir kepanasan saat berkunjung tengah hari sekalipun. Karena pohon mangrove yang tinggi menjadi pelindung dari sengatan matahari. Banyaknya pohon mangrove ini membuat KKMB begitu sejuk dan nyaman. Selain itu, pengelola KKMB juga membuat bangku-bangku dan gubuk untuk istirahat. Jarak antara satu bangku dengan bangku lainnya cukup berdekatan. Sehingga tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan tempat duduk. Juga ada saung  yang terbuat dari kayu dengan ruangan yang cukup luas. Saung yang dibangun beberapa unit ini, selain dapat dijadikan tempat beristirahat juga untuk berteduh  bila ada hujan turun.

KKMB ini tidak hanya melulu pohon-pohon mangrove  yang cukup lebat dan tinggi, tapi juga banyak pohon-pohon lain yang tumbuh disana. Setiap pohon ditempeli papan yang bertuliskan jenis pohon tersebut baik nama Indonesia maupun lain. Beberapa siswa sekolah sering datang ke lokasi ini untuk wisata ilmiah dengan mencatat dan mengenali nama-nama pohon beserta nama latinnya.

Yang menarik, KKMB juga dihuni  binatang khas Tarakan yaitu bekantan (Nasalis lavartus)  yakni monyet yang berhidung merah dan besar.
Pada awalnya  jumlah bekantan yang menghuni KKMB relatif sedikit. Tapi kini, koleksi bekantan KKMB bertambah banyak sekitar  45 ekor bekantan. Masing-masing bekantan memiliki nama yang unik.  Ada yang bernama Jeni, Jefri, bahkan Johan. Selain berfungsi sebagai paru-paru kota dan pusat konservasi, KKMB sebagai kawasan wisata.  KKMB juga dinilai berhasil melestarikan bekantan yang populasinya makin menyusut

Warga Tarakan menamai bekantan sebagai “monyet Belanda” karena hidungnya yang kelewat mancung. Bekantan termasuk hewan pemalu. Binatang ini hanya akan mendekat pada pengurus yang sudah dikenalnya. Karena itu, meski Bekantan bebas berkeliaran di hutan mangrove tersebut, kita tak usah khawatir akan digigit, dicakar, atau diganggu bekantan. Karena binatang yang dijadikan ikon kota Tarakan, hanya bergelantung jauh diatas pohon sambil menatap kita malu-malu. Bekantan tidak akan mendekat, meski kita menyodorkan makanan sekalipun.

Makanan yang disantapnya sehari-hari adalah pisang yang disediakan bertandan-tandan. Bila kita beruntung, bekantan dapat dilihat dalam jarak tiga sampai lima meter, setelah dipanggil oleh penjaga.
Para penghuni KKMB ini tidak dapat keluar hutan, karena hutan tersebut dikeliling oleh tembok setinggi 2-3 meter.  Lagipula Bekantan tidak akan meninggalkan KKMB karena memang lingkungan hutan mangrove merupakan habitat asli tempat tinggal mereka. Sehingga mereka serasa dirumah saja.

Selain bekantan, KKMB juga punya koleksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), sedikitnya 13 spesies kepiting, koloni ikan gelodok atau tempakul (Mudskipper periopthalmus sp), elang bondol (Heliastur indus), dan raja udang. Bahkan pada saat air pasang, suka ada buaya muara yang tersasar masuk ke lokasi KKMB. Namun karena jarak antara jembatan kayu dengan air lumpur cukup tinggi, keberadaan buaya tidak membahayakan pengunjung. Karena ia tetap berada dilumpur.

Untuk memperoleh informasi sekitar KKMB, pengelola membuat papan-papan pengumuman di setiap sudut KKMB. Papan setinggi 3 meter itu menulis tentang luas areal, jenis bekantan, hingga jumlah bekantan. Atau bila ingin lengkap mengenai “isi perut’ KKMB, kita juga dapat meminta bantuan  kepada pengelola untuk memandu dan menerangkan setiap jengkal KKMB. Para pengelola KKMB ini dengan senang hati menjelaskan seluruh informasi. Bahkan mereka pun dapat memanggil para bekantan dengan namanya masing-masing. Karena umumnya, pengelola mengetahui nama setiap bekantan dari ciri fisiknya.

Melihat apa yang dilakukan Pemkot Tarakan, membuat hutan mangrove yang sekaligus objek wisata, dapat menjawab pemkot atau pemda di manapun, bahwa membuat hutan mangrove tidak melulu membebani APBD.***