Kemenlu: RI Bidik Ekspor Ke Asia Selatan Dan Tengah

Majalahteras.com – Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri, Siswo Pramono menjelaskan rekomendasi dari daerah menjadi modal penting untuk diplomasi industri ke Asia Selatan dan Tengah.

“Asia Selatan maupun Tengah menjadi sasaran ekspor selanjutnya, sebab kami menilai negara-negara di daerah ini sangat potensial dan terus berkembang,” paparnya saat membuka forum kajian kebijakan luar negeri outbound investment dan strategi ekspor Indonesia di Palangka Raya, Rabu.

Sayangnya selain India, tujuan ekspor Indonesia termasuk Kalimantan Tengah ke negara lain di kawasan ini masih tergolong rendah.

“Untuk itulah diperlukan kebijakan strategis yang harus dirumuskan secara matang sehingga target tersebut bisa diwujudkan,” katanya.

Sekretaris Daerah Kalteng, Fahrizal Fitri menjelaskan, guna mendukung keinginan pemerintah pusat itu, pemerintah provinsi juga akan menyiapkan strategi khusus untuk mewujudkannya.

“Melalui instansi yang membidangi serta pihak terkait lainnya, kami akan menyiapkan rekomendasi yang aplikatif mengenai investasi dan strategi ekspor yang tepat,” kata dia.

Total nilai ekspor Kalteng pada Desember 2018 lalu mencapai 200,16 juta dolar Amerika Serikat. Bahan bakar mineral masih menjadi komoditas unggulan pada ekspor Kalteng, yakni sebanyak 59,18 persen.

India menjadi negara mitra dagang ekspor utama dari Kalteng untuk wilayah Asia Selatan dan Tengah. Sementara untuk negara Asia lainnya, diantaranya Jepang, Tiongkok serta Filipina.

“Kedepan, kami ingin tingkatkan capaian itu, baik di negara-negara yang sudah menjadi mitra maupun memperluas pemasarannya ke negara-negara lain yang belum bermitra,” terangnya.

Fahrizal mengatakan, pihaknya akan memaksimalkan ragam potensi sumber daya alam yang ada di daerah. Saat ini yang menjadi andalan masih berupa produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) maupun bahan bakar mineral.

Produksi CPO Kalteng sebesar 9,24 juta ton per tahun, kontribusi Kalteng untuk CPO nasional yakni sekitar 24,64-26,41 persen. Sementara batu bara Kalteng periode 2014-2017 sebesar 50,85 juta ton, kata Fahrizal. (antara/jem)