Festival Nasional Musik Tradisi Remaja 2015

Majalahteras.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Festival Nasional Musik Tradisi Remaja 2015 di pelataran Museum Fatahillah. Acara yang berlangsung mulai 5 hingga 9 Agustus ini menampilkan 340 peserta dari 34 grup musik remaja dengan jenjang umur 7-18 tahun dari berbagai daerah yang telah diseleksi di provinsi masing-masing. Mereka datang membawa alat musik tradisional dari daerahnya.

Festival diselenggarakan tiga hari berturut-turut, dengan tujuan para remaja lebih memahami dan melestarikan budayanya. Para peserta akan menampilkan pertunjukan musik khas daerahnya masing-masing.

Dadang selaku panitia Festival Musik Tradisi Remaja 2015 mengungkapkan, festival ini juga bertujuan untuk memperluas dan meningkatkan kembali pengetahuan remaja terhadap musik tradisionalnya. Industri musik saat ini berkembang dengan sangat pesat, munculnya penyanyi solo, grup band, dan lagu-lagu baru menunjukkan perkembangan tersebut.

Menurut Dadang, perkembangan teknologi yang semakin pesat menjadi kekhawatiran inisiator acara. Teknologi dapat mengkikis kepedulian remaja terhadap budaya nasional. “Indonesia adalah bangsa yang sangat kaya akan budaya dan musik tradisional,” tuturnya.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan dalam sambutannya mengungkapkan, bahwa festival musik ini bermaksud menyalurkan ekperesi dan karya para remaja di bidang seni tari dan seni musik.

“Seni Musik Tradisi merupakan salah satu bidang ekspresi bagi seniman musik dalam berkarya, dan banyak ditemukan di berbagai wilayah tanah air,” ungkap Anies Baswedan

Pada akhir acara akan diumumkan 5 terbaik dari 30 peserta. Pemenang akan dibagi dalam dua kategori, yakni pemenang individu yang dinilai secara perorangan, dan pemenang kelompok. Dalam kategori individu, akan dipilih 5 orang sebagai Penata Musik Terbaik dan Penampil atau Pemain Musik Terbaik. Penampilan peserta dinilai oleh para kalangan praktisi akademi serta professional musik, yaitu Frans Sartono (wartawan budaya), Suhendi Afryanto (musisi, akademisi), Embi C. Noer (Penata Musik Teater, Film, & Televisi), Jabatin Bangun (Ethnomusicologist), dan Ester Siagian (Akademisi).

“Tidak akan ada juara satu, dua, atau tiga. Karena semua daerah memiliki keunikannya masing-masing. Maka dari itu, kami bilangnya 5 terbaik. Tidak ada juara,” ujarnya.

Dalam penutupan acara pun Anies berpesan kepada seluruh peserta untuk continue dalam melestarikan budaya, khususnya seni musik tradisional. Sehingga bisa menciptakan perpaduan yang harmonis antara musik trdisional dan modern.

“Untuk adek-adek yang ikut festival tradisi ini. Jadikanlah pengalaman ini sebagai tonggak awal. Bukan sebagai akhir. Ceritakanlah kepada teman-teman agar menjadi motivasi teman-teman di daerah,” pungkas Anies Baswedan.