Dinas Lingkungan Hidup Sosialisasikan Kampung Iklim

KOTA TANGERANG – Untuk menjaga ketersediaan air dan upaya pemanfaatan air tanah, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan sosialisasi Kampung Iklim kepada warga Rawa Sepat di Kelurahan Paninggilan Utara. Kegiatan tersebut di laksanakan di halaman Masjid Al-Falah  RT 02/05, Peninggilan Utara, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Senin (23/10).

Sosialsasi Kampung Iklim di laksanakan oleh Dinas Lingkungan Hidup tersebut bertujuan agar seluruh titik yang menjadi langganan genangan banjir di Kota Tangerang bisa teratasi dengan di buatkanya lubang biopori maupun sumur resapan. Seperti di wilayah rawa sepat ini yang merupakan wilayah langganan banjir apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi.seperti di wilayah RW 04,05 dan RW 08, Kelurahan Peninggilan Utara merupakan wilayah Cekungan dimana sangat rawan tergenang, baik air berasal dari air hujan itu sendiri maupun air limpasan dari saluran air.

Kepala DLH Kota Tangerang, Engkos Zarkasih mengatakan, selain mensosialisasi Kampung Iklim, pihaknya juga meberikan praktek pengunaan mesin bor untuk membuat lubang biopori jumbo, kepada warga Kampung Rawa Sepat. “Selain di RW 05, Kelurahan Peninggilan Utara, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup menargetkan pada akhir tahun ini bisa terealisasi di 300 RW dari 13 Kecamatan yang ada di Kota Tangerang,” jelasnya.

Dengan adanya pembuatan lubang Biopori jumbo dan sumur resapan air pihaknya berharap seluruh titik banjir dan genangan bisa teratasi . pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang sendiri telah melakukan study banding dan belajar di Kampung Belintung Malang dan disana sudah berhasil.

“Kita disana belajar dan praktek secara langsung, di sana juga sudah terbukti dan teruji, maka dengan adanya sosilasasi ini di harapkan adanya peran serta warga dalam dalam pembuatan lubang biopori dan sunur resapan ini. Sehingga bisa mengurangi genangan-genangan yang kerap terjadi terutama disaat musim penghujan tiba,” pungkasnya.

Sementara itu, Camat Ciledug, A.Budi Wahyudi mengatakan, dipilihnya wilayah Rawa Sepat, Kelurahan Peninggilan Utara sebagai tempat sosialsisasi, karena wilayah itu sering tergenang dikala turun hujan. “Rawa Sepat ini memiliki kontur wilayahnya cekungan, dimana jika turun hujan dengan intensitas tinggi selalu tergenang. Maka dengan adanya sosialisasi tentang biopori jumbo ini air bisa lebih terserap dan tidak perlu harus antri lagi untuk masuk ke saluran air yang ada untuk selanjutnya menuju sungai,” ujarnya.

Untuk di ketahui bahwa wilayah Rawa Sepat jika hujan turun selama tiga puluh menit saja sudah pasti terjadi genangan yang cukup lama. oleh karena itu di lokasi sekitar mesjid Al-Falah ini akan dibuatkan 50 titik Biopori, sehingga mesjid yang menjadi tempat ibadah warga sisini terbebas dari banjir. “Kita menargetkan di wilayah ini agar terbebas dari banjir, maka seberapapun lubang Biopori yang dibutuhka pasti kita akan buatkan,” tegasnya.

Berdasarkan data yang ada bahwa ada 180 KK di Rawa Sepat ini yang terdampak, apabila dihitung satu Kepala Keluarga (KK) saja membuat Biopori, maka Insallah, warga semua bisa terbebas dari banjir.

Ia juga mengatakan, bahwa genangan sering terjadi di Rawa Sepat, terjadi dengan adanya limpahan air hujan dari rumah penduduk dan limpahan dari saluran air.

“Meski Pemerintah Kota Tangerang belum lama telah membangun saluran air, sepanjang 205 meter dengan kasitas dua kali lipat dari sebelumnya, tapi tetap belum bisa mengatasi genangan yang kerap terjadi “.dengan pembuatan lubang biopori dan sumur resapan ini di harapkan lebih efektiif memasukan air kedalam tanah, selain itu dengan cara seperti ini sama saja kita bersedakah air terhadap tanah agar dimusim kemarau kita tidak mengalami kekeringan,pungkasnya.@IMAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *