70 Persen Lansia Sakit Diberikan Pelayanan di Panti Ini

majalahteras.com – Sekitar 70 persen lanjut usia telantar yang sakit dari 228 orang saat ini diberikan pelayanan di Panti Sosial Trensa Werdha Budi Mulia 4 Dinas Sosial DKI Jakarta. Lansia itu merupakan hasil penjangkauan di jalanan Ibukota DKI Jakarta.

 

Cukup tingginya harapan hidup warga DKI yang mencapai 79 tahun setidaknya membutuhkan sarana pelayanan lansia yang memadai. Khususnya lansia telantar yang sakit dan tidak memiliki keluarga.

 

Itu disampaikan R. Yanti Affiyanti Kepala Panti Tresna Werdha Budi Mulia 4, Rabu (2/11). Ia melanjutkan, saat ini pemerintah DKI sudah memiliki 4 panti lansia. Meskipun kelebihan kapasitas, pihaknya tetap memberikan pelayanan sosial.

 

“Lansia telantar ini kebanyakan tidak diketahui keluarga. Ada juga yang keluarganya tidak mau mengakui. Nah, mereka siapa yang merawat? Pada akhirnya menjadi tanggungan negara,” tandas Yanti.

 

Ia menambahkan, di pantinya sendiri banyak lansia sakit yang memerlukan pelayanan kesehatan. Walaupun pihaknya hanya memiliki domain pelayanan sosial namun pelayanan kesehatan tetap bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Masyarakat setempat.

 

“Karena Puskesmas, barangkali kami kadang kesulitan mendapatkan obat-obat tertentu. Kami bersyukur ada juga Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang mau bantu berikan obat-obatan,” ujar Yanti.

 

Di panti itu, katanya, kakek dan nenek diberikan pelayanan kesehatan seperti fisioterapis, akupuntur, pemeriksaan kesehatan rutin, pemberian obat, pengecekan gula darah rutin, senam pagi rutin, sampai dirujuk ke rumah sakit jika perlu.

 

“Saat ini ada sekitar tiga sampai empat orang yang ada di rumah sakit. Mereka kami rujuk ke sana karena kondisi sakitnya yang cukup serius,” imbuh Yanti kepada majalahteras.com.

 

Banyaknya lansia yang sakit di pantinya, katanya, merupakan lansia sewaktu pantinya masih dikhususkan untuk lansia sakit dengan nama Panti Usada Mulia peninggalan J.S. Nasution atau yang terkenal dengan sebutan Bu Nas. Namun sekarang sudah berganti nama dan pantinya tidak lagi dikhususkan untuk lansia sakit.

 

“Sekarang sudah sama dengan panti lansia pada umumnya. Panti yang lain menampung yang sehat, mandiri, ada juga yang sakit. Kami pun seperti itu. Ini sesuai dengan Pergub No. 277 tahun 2014,” kata Yanti.

 

Selain pelayanan kesehatan, katanya, pelayanan sosial seperti bimbingan sosial dan psikosial menjadi hal yang wajib diberikan. Lansia itu diberikan bimbingan dinamika kelompok, bimbingan psikologis sampai pemecahan masalah.

 

“Yang terpenting sih sebenarnya bagaimana kakek-nenek ini bisa sehat dan mengobrol dengan kami petugas dan sesama lansia lainnya. Itu artinya mereka nyaman dan menganggap panti ini keluarga dan rumah buat mereka,” ujar Yanti kepada majalahteras.com.